Senin, 18 Juni 2012

Filsafat Ilmu

FILSAFAT ILMU

A.   PENGERTIAN
Pertanyaan yang pokok yang harus dicari jawabanya adalah apakah filsafat itu. Tentu kia sendiri sering mendengar   bahwa menggunakan kata filsafat. Telah banyak ahli filsafat yang memberikan pengertian dan definisi tentang filsafat tetapi kebanyakan konsep yang diberikan itu tidak sama. Hal itu karena terjadi masing-masing ahlifilsafat atau filusuf itu mempunyai konsep yang diberikan tidak sama. Kata filsafat berasal dari kata Yunani philasopia , terdiri dari kata philos yang berarti cinta atau sahabat dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan ,kearifan atau pengetahuan. Jadi philosopia berarti cinta kebijaksanaan , kearifan atau pengetahuan. Jadi philosofia berarti cinta pada kebijksanaan atau cinta pada pengetahuan, dalam belajar   ini anda akan diajak untuk memahami apa yang dilakukan para ahli filsafat atau filusup itu.   
Anda tentu memahami bahwa  dalam kegiatan sehari-hari seringkali manusia mengalami hal-hal yang kurang dipahami sehingga menimbulkan pertayaan dalam dirinya dan menggugah rasa ingin tahunya. Banyak peristiwa yang terjadi dalam alam ini yang menakjubkan yang menimbulkan kekaguman, bahkan menakutkan. Bintang-bintang yang berkedip dimalam hari, lautan biru yang senantiasa bergerak, bahkan gempa bumi yan menghancurkan bangunan-bangunan dalam beberapa contoh peristiwa alam yang dapat menimbulkan pertanyaan apakah yang sebenarnya terjadi dan apakah yang menjadi asal   dari segala yang ada di alam ini.
Ada pendapat menyatakan bahwa filsafat itu dalah ibi atau induk dari segala ilmu, mengapa demikian ? . Plato mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang berusaha unuk mencapai kebenaran yang murni. Rene Des Cartes mengatakan bahwa filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan yang bidang pembahasanya adalah tentang Tuhan, manusia dan alam semesta. Jadi filsafat awalnya adalah meliputi segenap ilmu kemudian berkembang makin rasional dan sistematis.
Mengingat semakin luasnya bidang-bidang yang dibahas, para ahli membagi bidang studi filsapat dalam beberapa cabang atau beberapa bagin-bagian filsapat yaitu :  
1.                Epistimologi  berasal dari dua buah kata dalam bahasa Yunani, yakni Efisteme yang berarti  pengetahuan dan logos yang berarti kata, pikiran atau ilmu. Jadi Efistemologi adalah cabang filsafat yang membahas pengetahuan. Dalam hal ini yang dibahas antara lain adalah asal mula, bentuk atau struktur, dinamika, validitas, dan metodologi, yang secara bersama-sama membentuk pengetahuan manusia, (Ensiklopedi Indonesia, 1980)
2.                Istilah ini berasal dari kata Yunani  metaphisika yang artinya  setelah fisika cabang ini membahas cabang filsafat yang membahas dasar dasar realiatas dan dierkenalkan oleh Andronikus dari Rhodes dari kumpulan buku-buku yang ditulis oleh Aristoteles tentang hakikat benda-benda yang kita lihat pada dunia nyata ini. Oleh Andronikus kumpulan tulisan it ditempatkan setelah kmpulan tulisan tentang fisika . Metafisika dibagi dam metafisika umum dan metafisika khusus. Metapisika umum disebut juga ontologi.
3.                Logika adalah cabang atau bagian filsafat yang menyusun , mengembangkan dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal , dan prosedur-prosedur normatif, serta kriteria yang shahih bagi penalaran dan penyimpulan demi  mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional  ( Rapar, 1986 ). Sebagai ilmu , logika berasal dari pandangan Aristoteles, meski ia tidak menyebutnya logika, tetapi filsafat analitika. Istilah logika digunakan pertama kali oleh  Zero dari Citium (334-262 SM ) dari kata logikos dan kata ini berasal dari kata logos yang artinya akal atau pikiran, sedangkan logikos mempunyai arti sesuatu yang diutarakan dengan akal .
4.                Etika seringkali dinamakan filsafat moral, karena cabang filsafat ini membahas baik dan buruk tingkah laku manusia. Jadi ; dalam filsafat ini manusia dipandang dari segi prilakunya. Pada zaman Sokrates etika ini amat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dapat pula dikatakan bahwa etika merupakan ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat. Jadi dalam filsafat ini manusia juga dipandang dalam segi peranannya sebagai anggota masyarakat. Pada hakikatnya, nilai tindakan manusia terkait pada tempat dan waku, disamping itu baik dan buruknya prilaku manusia ditentukan oleh sudut pandang masyarakat.
5.                Estetika.  Seni dan keindahan merupakan persoalan yang ditelaah oleh cabang filsafat estetika ini.  Adapun yang ditelah atau dibahas mengenai keindahan yaitu kaidah maupun sifat hakiki dan keindahan ; cara menguji keindahan dengan perasaan dan fikiran manusia; penilaian dan apresiasi terhadap keindahan.  Plato mengemukakan pendapatnya bahwa seni adalah  keterampilan memproduksi sesuatu. Jadi, Apa yang dsebut hasil seni adalah tiruan.  Aristoteles sependapat dengan Plato tetapi ia menganggap bahwa seni itu penting, karena seni berpengaruh besar bagi kehidupan manusia sedangkan Plato berpendapat bahwa seni itu tidak penting meskipun karya-karyanya yang berupa tulisan hingga sekarang dinyatakan orang sebagai karya seni sastra yang terkenal.
6.                Filsafat Ilmu kadang disebut juga sebagai flsafat khusus yaitu cabang filsafat yang membahas hakikat ilmu, penerapan bernada metode filsafat dalam upaya mecari akal persoalan dan menemukan azas realitas yang dipersoalkan oleh bidang ilmu tersebut untuk mendapatkan kejelasan yang lebih pasti. Dengan demikian penyelesaian masalah ilmunya menadi lebih terarah. Jadi, sesungguhnya setiap disiplin ilmu memiliki filsafat ilmunya sendiri. Misalnya Filafat hokum, filsafat sejarah, filsafat pendididkan,  Filsafat ilmu kealaman , Filsafat Matematika filsafat bahasa dan lain-lain.
  1. PERANAN FILSAFAT ILMU
Setelah mempelajari dan memahami apa filsafat itu, serta bagaimana peranan filsafat ilmu, maka diharapkan dapat menangkap inti persoalan yang dibahas serta manfaatnya bagi pelaksanaan tugas-tugas. Hal ini diharapkan dapat menjelaskan peranan filsafat ilmu secara lebih rinci .
Penguasaan terhadap tujuan - tujuan yang sudah ditetapkan itu amatlah penting artinya untuk membangun pemahaman dalam kajian filsafat pendididkan dalam suatu pemecahan masalah, dalam pelaksanaan tugas sehari - hari.
Untuk memudahkan mempelajari topik peranan filsafat ilmu  ada dua kegiatan yaitu :
I.        Perkembangan Ilmu, Ilmu Kealaman dan Ilmu Sosial
II.      Kajian Bidang-bidang Filsafat Ilmu
1.1 . Perkembangan Ilmu dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya pengetahuan itu merupakan hasil tahu tentang sesuatu yang diperoleh melalui suatu usaha. Selain itu dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang terbentuk pada diri masing-masing individu bergantung kepada pengetahuan dan pengalaman individu sebelumnya. Pengetahuan juga dapat diperoleh dari informasi yang diberikan oleh orang orang lain kepada kita, baik secara lisan maupun secara tulisan.
Pengetahuan yang diperoleh dari suatu objek tertentu dan yang ingin kita hayati melalui indera dan pemikiran. Pengetahuan ini biasa disebut pengetahuan saja atau dalam bahasa inggris disebut knowledge. Pengetahuan itu dapat dapat pula diperoleh melalui pengalaman yang tidak hanya melalui indera, tetapi juga diperoleh melalui sutu eksperimen.
1.2 . Ilmu Kealaman dan Ilmu Sosial. Ilmu kealaman sangat erat hubunganya dengan teknologi kareana konsep-konsep dalam ilmu kealaman digunakan untuk membuat produk teknologiseeri OHP ( overhead projector ), peralatan labratorium, media elektronika. Akibatnya teknologi pendidikan berkembang sangat pesat seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Dengan mencermati pandangan-pandangan ini maka dapat dikelompokan mana yang termasuk dalam ilmu pada umumnya, dan mana yang termasuk dalam ilmu kealaman .
      Connant dalam Science ,Man and Society, menyatakan bahwa masyarakat awam memandang  Science sebagai  aktivitas manusia yang bekerja dalam laboratorium dan penemunya memungkinkan berjalannya industry modern dan pembutan obat-obatan secara besar-besaran. Connant juga mengemukakan bahwa scence merupakan serangkaian konsep dan skema koneptual yang dikembangkan sebagai hasil eksperimen dan observasi yang berguna  untuk selanjutnya. Suppe seorang ahli fisika, berpendapat bahwa science adalah pengetahuan tentang alam   ( natural world ) yang diperoleh dari interaksi indra dengan dunia tersebut, dengan keterangan bahwa;
a.    Observasi dilakukan melalui indera
b.    Proses observasi  mengandung interaksi dua arah antara orang yang mengobservasi dan yang diobservasi         
1.3   Ilmu Sosial
       Pengetahuan  tentang masyarakat dan tingkah laku timbul kemudian dan dalam perkembangannya pengetahuan ini juga dipelajari menggunakan langkah yang ilmiah pula. Dengan demikian, pengetahuan tentang masarakat dipandang sebagai ilmu juga. Sebagai mahluk  jasmani  rohani , manusia memiliki berbagai macam kebutuhan yang  pemenuhannya kebanyakan harus dilakukan bersama orang lain scara kerjasama. Kebutuhan tersebut disamping berupa kebutuhan biologis juga berwujud kebutuhan emosional antara lain kasih sayang, pengakuan, penghargaan, pengertian, rasa aman dan aktualiasi diri.
2. Kajian Bidang Fisafat Ilmu
       Dalam setiap ilmu dibahas perkembangan ilmu, pengembangan konsep, kaitan antar konsep, pembentukan teori-teori baru melalui peelitian, dan lain-lain. Pada hakikatnya kajian dalam filsafat ilmu melipti ontology, epistemology, dan aksiologi ilmu tersebut.
      Ontologi membahas hakikat ilmu; pandangan-pandangan terhadap hakikat ilmu, termasuk pandangan erhadap sifat atau ciri ilmu tersebut yang dapat berkembang sesuai perkembangan pemikiran manusia. Epistemologi secara operasional membahas apa sarana dan bagaimana memperoleh pengetahuan dalam ilmu-ilmu tertentu, yang terkait dengan epistemology antara lain adalah logika, filsafat bahasa, analisis, wacana dan matematika. Aksiologi membahas manfaat ilmu tertentu misalnya ilmu pendidikan yang berkaitan dengan nilai kegunaannya bagi pembelajar dari segala kelompok usia yang diselenggarakan baik dalam pendididkan formal maupun non formal.
      Oleh karena  pandangan filsafat itu sifatnya individual, yaitu menyangkut keyakinan seseorang, terjadilah pandangan yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan atau dam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Jadi , latar belakang pemikiran seseorang didasari oleh filsafat masing-masing individu. Dalam setiap ilmu dikembangkan pendekatan dan metodologinya masing-masing yang dikenal dengan istilah logic internal.
2.2   Ontologi
    Dalam metafisika dan ontologi dalam fisika diolongkan kedalam metafisika umum. Namun didalam filsafat ilmu ontologi dikhususkan bagi ilmu tertentu. Pada awalnya para ilmuwan tidak bebas dalam mengemukakan pendapat atau menyampaikan hasil penelitiannya apabila pandangan tersebut bertentangan dengan pandangan filusuf penguasa atau pemuka agama, ia akan dijatuhi hukuman. Ketidakbebasan para ilmuwan mengemukakan hasil penelitiannya itu membuat kelompok minoritas memandang bahwa meneliti dan mengambil kesimpulan secara ojektif ditujukan untuk pengembangan ilmu tanpa menghiraukan aspek nilai dalam masyarakat. Sains merupakan ilmu yang bebas nilai pada waktu itu. Dewasa ini para ilmuwan atau saintis harus memilih objek penelitian yang tidak melanggar etika. Misalnya, tidak etis meneliti bagaimana bentuk bayi yang dilahirkan dari manusia dengan gorilla melalui metode bayi tabung atau kloning.
2.3     Epistemologi
       Dalam melakukan penelitian ilmiah, para ilmuwan berusaha memahami alam dan manusia, termasuk hubungan antar manusia secara objektif melalui eksplorasi dan argumentasi. Selanjutnya pengembangan ilmu dilakukan melalui pembentukan teori dengan mealui penelitian tersebut. Hasil penelitian biasanya dikomunikasikan dan didiskusikan diantara para ilmuwan yang menekuni bidang yang sama. Eksplanasi para ilmuan disebut eksplanasi ilmiah.
2.4     Aksiologi   
        Dengan adanya persaingan dalam perdagangan, industry memerlukan saintis untuk melakukan penelitan laboratorium sebelum hasilnya dilempar ke pasar . Dewasa ini, hasil penelitia ilmuwan sangat diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat .Misalnya, penelitian dalam bidang industri. Produk ilmu juga dapat memberikan daya prediksi bagi keperluan masyarakat. Sebagai contoh ilmu ekonomi dalam bentuk teori  juga mengemukakan prediksi atau ramalan. Dewasa ini dukungan matematika dalam ilmu ekonomi telah membuat daya prediksi semakin meningkat.
  1.   METODE ILMIAH
              Mempelajari tentang pengertian dan ruang lingkup kajian filsafat ilmu maka akan mempelajari salah satu materi pokok kajian filsafat ilmu, yaitu metode-metode ilmiah. Bahasan ini penting karena akan banyak mengkaji karakteristik metode kerja ilmiah  yang digunakan para ilmuwan, sehigga kajian ilmiahnya dapat merumuskan dan menemukan kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah banyak ditentukan oleh ketepatan dalam memilih dan menggunakan metode pengkajinya. Jika kebenaran ini ditemukan dengan metode yang tepat dan diterima oleh masyarakat akademik, kebenaran ilmiah dapat diakui oleh berbagai pihak.
            Dalam  bukunya yang berjudul Novum Organum yang terbit pada tahun 1620. Francis Bacon mengemukakan bahwa untuk mengembangkan ilmunya, para ilmuwan mengumpukan secara sisteatis semua informasi yang relevan tentang suatu subjek dan mengaturnya pada suatu tabel. Seorang ahi filsafat ilmu, yakni Kari Popper , merumuskan cara-ara melakukan penelitian ilmiah dengan apa yang dinamakan sistem  hipotheticodecuctive . Mulai dengan satu hipotesis  ia merencanakan suatu eksperimen atau serangkaian pengamatan  yang dirancang untuk menangkal hipotesistersebut. Dalam hal ini hiptesis diuji. Apabila hasil pengujian tidak sesuai dengan deduksi, hipotesis dimodifikasi atau ditolak. Apabila hasilnya sesuai maka hipotesis itu diperkuat, tetapi tidak dibuktikan kebenaranya. Popper  berpendapat bahwa tugas ilmuwan adalah menyangkal hipotesis, karena yang memungkinkan adalah menyangkal, tetapi tidak mungkin untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis.
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti rendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui  dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterusterang, sejauhmana sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
            Ilmu merupakan pengetahuan yang kita geluti sejak bangku sekolah dasar sampai perguruan tingggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti  kita berterus terang kepada diri kita sendiri, apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu?. Apakah ciri-ciri yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahun-pengetahun lainnya yang bukan ilmu?. Bagaimana kita ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahun yang benar?. Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara keilmuannya.
            Karakteristik berfikir filsafat ada  3 yaitu :
1.    Bersifat menyeluruh.  Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenai ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin  tahu kaitan ilmu dengan moral dan kaitan ilmu dengan Agama dan juga dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
2.    Bersifat Mendasar. Contoh Seorang ilmuwan meremehkan pengengetahuan lainya, mereka meremehkan moral, agama dan nilai Estetika, mereka Itu para ahli yang berada di bawah tempurung  disiplin keilmuannya masing-masing, sebaiknya mereka menengadah ke bintang-bintang dan tercengan ternyata masih ada langit lain diluar tempurung mereka?. Dan merekapun berang akan kebodohan mereka. Tujuan berfikir secara filsapat memang memancing keberangan tersebut, namun bukan berang kepada orang lain melainkan berang terhadap diri sendiri dan bertenggang rasa terhadap orang lain atau rendah hati. Kerendahan hati bukanlah verbalisme yang sekedar basa basi. Seorang yang berfikir filsafat selain menengadah ke bintang-bintang juga membongkar tempat berpijak secara fundamental.
3.    Bersifat Spekulatif. Apabila kita menyusuri sebuah lingkaran, kita harus mulai dari suatu titik yang merupakan titik awal dan sekaligus titik akhir, lalu bagaimana menentukan titik awal yang benarnya?. Secara terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara keseluruhan dan bahwa kita tidak yakin akan titik awal yang menjadi jangkah pemikiran yang mendasar. Dalam hal ini kita hanya berspekulasi  saja.
Semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini dapat memilih buah fikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan Kriteria tentang apa yang disebut benar tidak mungkin pengetuahuan lain berkembang diatas dasar kebenaran (Logika). Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk, tidak mungkin kita berbicara tentang moral (Etika), demikian juga tanpa wawasan tentang apa yang disebut indah atau jelek, tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian (Estetika).
Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social, dilihat dari pengembangannya bermula sebagai  filsafat. Issac Newton (1942-1627) menulis hukum-hukum fisikanya sebagai Philosohhiae Naturalis Principia Methematica (1686)  dan Adam Smith (1723-1790)  bapak ilmu ekonomi menulis buku The Wealth on Nations (1776). Namum asal fisika adalah filsafat alam (natural Philosophy) dan nama ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy)
Dalam perkembangannya filsafat menjadi ilmu terdapat taraf peralihan. Dalam tarap peralihan ini maka bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh melainkan sektoral. Di sini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan, melainkan mengkaitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang ilmu ekonomi.  Walau demikian dalam taraf ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan diri pada norma-norma filsafat.
Umpamanya ekonomi masih merupakan penerapan etika dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhannya, metode yang dipakai adalah normative dan deduktif berdasarkan asas-asas moral . Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan otonom dari konsep-konsep filsafat dan bertumpu sepenuhnya pada hakekat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan ilmu masih mendasarkan diri pada nama yang seharurnya, sedangkan dalam tahap akhir ini ilmu didasarkan atas penemuan alamiah saja. Dalam penyusunan pengetahuan tentang alam dan isinya ini maka manusia tidak lagi menggunakan metode normative dan deduktif, melainkan kombinasi antara deduktif dan induktif dengan jembatan yang berupa pengajuan hipotesis sebagai metode deduct-hypotetico-verifikatif. Tiap ilmu dimulai dengan filsafat dan berakhir sebagai seni.
Cabang-cabang Filsafat.  Pokok permasalahan yang dikaji dalam filsafat mencakup tiga segi yaitu
1. Apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (epistemologi)
2. Mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika)
3. Apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika)
Ketiga cabang  utama filsafat ini kemudan berkembang dan bertambah dua lagi yaitu
1.    Teori tentang ada; tentang hakekat keberadaan zat, tetang hakekat fikiran serta kaitan antara zat dan fikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika.
2.    Politik; yakni kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal
Kelima cabang utama ini kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai kajian yang lebih spesifik diantaranya cabang-cabang filsafat yang kita kenal sekarang ini yaitu :
1.    Epistemologi (Filsafat pengetahuan)
2.    Etika (filsafat Moral)
3.    Estetika (Filsafat Seni)
4.    Metafisika
5.    Politik (Filsafat pemerintahan)
6.    Filsafat Agama
7.    Filsafat Pendidikan
8.    Filsapat Ilimu
9.    Filsafat Hukum
10. Filsafat Sejarah
11. Filsafat Matematika

Filsafat Ilmu  merupakan bagian dari epistemilogi (filsafat Pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.  Meskipun secara metodologi ilmu tidak membuat perbedaan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu social, namum karena permasalahan-permasalahan teknis bersipat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu social.  Pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing-masing bidang yang ditelaah, yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu social dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom.
Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu seperti :
1.    Obyek apa yang ditelaah ilimu?. Bagaimana Wujud Hakiki Obyek tersebut?. Bagaimana hubungan antara obyek tadi dan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan.  Pertanyaan ini berlandaskan Ontologis
2.    Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahun yang berupa Ilmu?. Bagaimana prosedurnya?. Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar?. Apa yang disebut kebenaran itu sendiri?. Apakah kriterianya?. Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.  Pertanyaan ini berlandaskan  Epistemologis

3.    Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?. Bagaimana kaitan atara penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral?. Bagaimana obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?. Bagaimana hubungan antara teknis procedural yang merupakan oprasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral/profesional?.  Pertanyaan ini berlandaskan Axiologis.
Dari semua pengetahuan maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologism, epistomologis dan axiologis telah jauh berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lain dan dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin.
Pengetahuan :           Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh  bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melainkan lebih dari pada itu.  Pengetahuan  dapat berkembang karena dua hal utama yaitu :
1.    Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut,
2.    Manusia mempunyai kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu atau disebut penalaran.
Penalaran merupakan cara berpikir tertentu sehingga ketika melakukan analisis maka kegiatan penalaran tersebut harus diisi dengan materi pengetahuan yang berasal dari suatu sumber kebenaran yaitu berdasar rasio dan fakta.  Ada pendapat bahwa Rasio adalah sumber kebenaran  (rasionalisme) ada juga pendapat bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalamaan merupakan sumber kebenaran (Empirisme)
            Penalaran ilmiah pada hakekatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif, yang selanjutnya masing-masing terkait dengan rasionalisme dan empirisme.
            Induktif adalah cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umun dari berbagai kasus yang bersifai individual.  Dengan kata lain dalam penarikan kesimpulan dimulai dengan pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dan diakhiri dengan pernyataan yang bersipat umum
            Deduktif  adalah cara berfikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum menarik kesimpulan yang bersipat Khusus.
            Disamping Rasionalisme dan Empirisme masih terdapat cara lain untuk mendapatkan pengetahuan yaitu :
a.    Intuisi yaitu merupaka pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui peroses penalaran. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah, tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku secara tiba-tiba muncul dibenaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu.
b.    Wahyu yaitu Pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada manusia melalui para nabi-nabi yang diutusnya sepanjang jaman. Agama mengandung pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pangalaman, namun juga mencakup masalah-msalah yang bersifat transsedental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti.

Manusia dengan segenap kemampuannya seperti perasaan, pikiran , pancaindra dan intuisi mampu menangkap dalam kehidupannya dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk pengetahuan (Knowledge), umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah dan filsafat. 
Untuk membedakan tiap-tiap kelompok pengetahuaan (Knowledge) terdapat tiga kriteria yaitu :
a.    Apakah obyek yang ditelaah menghasilkan pengetahuan, kriteria  ini disebut obyek Ontologis seperti ekonomi menelaah hubungan antara manusia dengan benda/jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya sedangkan manajemen menelaah tentang kerjasama manusia dalam mencapai tujuan yang telah disetujui bersama.  Obyek Ontologis  (pengalaman manusia) yakni segenap wujud yang dapat dijangkau lewat pancaindra atau piranti yang membatu kemampuan pancaindra.
b.    Cara apa atau bagaimana mendapatkan pengetahuan itu. Kriteria ini disebut Landasan Epistemologi yang berbeda untuk setiap pengetahuan manusia. Umpamanya landasan epistemology matematika adalah logika deduktif dan landasan epistemology kebiasaan adalah pengalaman dan akal sehat. Landasan Epistomologis yaitu metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis
c.    Untuk apa pengetahuan (Knowledge) itu dipergunakan, dengan kata lain nilai kegunaan apa yang dipunyai olehnya. Kriteria ini disebut landasan Axiologis yang juga dapat dibedakan untuk setiap jenis pengetahuan, Contohnya Nilai kegunaan seni pencak silat berbeda dari nilai kegunaan filsafat atau fisika. Landasan Axiologis yaitu kemaslahatan manusia artinya segenap wujud pengetahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar